Pariaman(SUMBAR)PT - Kalau anda dan keluarga ingin menghabiskan akhir pekan atau menikmati suasana liburan ke Pariaman, Sumatera Barat, jangan hanya singgah di Pantainya saja. Tapi anda juga wajib mampir ke tempat pengkaran penyu yang ada di utara Kota Pariaman.

Selain bisa memanjakan mata dengan binatang langka ini, anda bersama keluarga terutama anak-anak, bisa sekalian berwisata edukasi. Mengenalkan hewan purba tersebut ke anak-anak anda.

Penyu harus dijaga kelestariannya salah satunya melalui pembinaan habitat peneluran. Ada tujuh spesies penyu laut di dunia, tersebar di daerah tropis dan subtropis. Sebagian besar dapat hidup hampir 100 tahun dan dalam siklus hidupnya memerlukan berbagai tipe habitat, termasuk pantai berpasir dan laut terbuka. Karena daerah penyebarannya yang sangat luas dan memiliki berbagai bentuk habitat, maka penyu laut dapat berinteraksi dengan aktivitas manusia dalam setiap tingkatan hidupnya. Dari tujuh jenis penyu di dunia, tercatat enam jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelysimbricata), penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natatordepressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), serta penyu tempayan (Caretta caretta).

Penangkaran penyu ini terletak di Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, yang dikelola oleh UPTD Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat, termasuk salah satu objek wisata andalan di Pariaman. Penangkaran penyu memiliki sekitar 600 butir telur yang siap ditetaskan. Biasanya telur dapat menetas dalam waktu 50 sampai 60 hari, dipengaruhi oleh suhu sarang semi alami (pasir) 
dan Telur penyu berasal dari sepanjang pantai mulai dari Pantai Katapiang  sampai ke Pantai Naras Pariaman. Relokasi telur penyu untuk penyelamatan melibatkan peran serta masyarakat sepanjang pantai untuk relokasi telur penyu ke penangkaran.
Hasilnya (tukik) yang menetas di rilis ke habitatnya yakni Laut.

adapun  jenis yang telah berhasil ditangkarkan yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate) dan Penyu Lekang (Lepidhochelys olivacea). Penyu yang ditangkarkan disini didapat dari penetasan telur.

Sejak 2009 Pusat konservasi penyu ini telah melakukan penangkaran kurang lebih 30.000 ekor tukik dan tukik-tukik tersebut kemudian dilepaskan ke laut. UPTD Pusat Konservasi Penyu Pariaman juga menjadi salah satu objek eko-wisata dan wisatawan wisatawan mancanegara juga menjadikan destinasi wisata ini sebagai salah satu tempat yang mereka kunjungi ketika berada di Kota Pariaman dan Kemudian pada tahun 2013 dibentuk UPT Konservasi Penyu dan pulau-pulau yang berada di kawasan pencadangan mempunyai fungsi utama sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis flora dan fauna serta pemanfaatan yang lestari.

Pengunjung Konservasi penyu sekitar 15.000 pengujung setiap tahunnya. Sebelum Covid pengunjung mencapai 45.000 orang.
Masuk ke penangkaran hanya dikenai retribusi Rp. 3.000/org. Pengunjung dapat merilis tukik  selagi masih tersedia dengan retribusi Rp. 5.000/ ekor tukik

Dan Kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai pusat penelitian, pendidikan, objek wisata bahari, dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengembangan ekonomi produktif dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pemanfaatan yang ramah lingkungan dan lestari.

Kawasan Konservasi ini menjadi tempat pelestarian penyu dan penetasan telur penyu yang berasal dari pulau-pulau yang telah dijadikan kawasan konservasi sekitar Kota Pariaman. Memang, wilayah pesisir dan pulau banyak ditemukan spesies penyu penyu laut dan sebagai daerah penyu bertelur sepanjang tahun.

Lokasi ini merupakan satu-satunya penangkaran penyu yang terletak di daratan. Wisatawan yang berkunjung kesini bisa melihat ragam jenis penyu serta pembibitan, disini wisatawan bisa menikmati indahnya pantai serta bisa melepaskan tukik (anak penyu) ke laut.


#boy/rds
 
Top